Sabtu, 10 Agustus 2013

FF "EAGLE EYES!" Part 2.

Author                   : Setan baik.
Cast                       : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Choi Sooyoung.
Genre                     : Angst.
Rating                    : 15+
This original story by @Intaan905 ^^




*****


            Hening! Tidak ada siapapun di ruangan yang Hiu hwi tempati. Hiu hwi masih tak bergeming di tempatnya, kemudian suara ketukan pintu itu membuatnya berjengit. Buru-buru Hiu hwi beranjak membuka pintu, pemuda itu sudah rapi dengan kaos hitam dan jeans. Hiu hwi memasang wajah panik sambil menunjuk cermin ketakutan.
            "Tuan! A-aku melihat darah.."
            "Hiu hwi-ssi, kau bicara apa?" tanya pemuda itu heran seusai melihat cermin yang di tunjuk oleh Hiu hwi yang katanya, ada darah. "Tidak ada darah, Hiu hwi-ssi. Mungkin kau terlalu lelah, mengingat perjalanan panjangmu tadi." lanjut pemuda itu santai.
            "Aku serius, Tuan!" Hiu hwi merengek manja pada pemuda itu, kemudian pemuda itu menggiring Hiu hwi duduk di ranjang.
            "YA!" Hiu hwi memeluk pemuda di sampingnya dengan ketakutan, ketika seekor anjing besar berwarna hitam muncul dari balik daun pintu. Pemuda itu terdiam! Detak jantungnya mendadak berdegub lebih kencang dari biasanya. Kulit putih pucatnya mendadak meremang karena bersentuhan dengan kulit putih yang lembut milik Hiu hwi.
            "Kumohon, jangan mengganggunya." gumam pemuda itu nyaris tak terdengar oleh Hiu hwi. Sejujurnya, pemuda ini tahu, jika ada darah di cermin tersebut. Pemuda itu menghela napas lega ketika darah pada cermin itu sudah tidak ada.
            Pemuda itu merasakan jika pelukan Hiu hwi pada pinggangnya itu merenggang, "Hiu hwi-ssi? Apa kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu pelan.
            "Ah, ternyata dia tertidur.." Pemuda itu beranjak merebahkan Hiu hwi di ranjang dan menyelimutinya. Ia belum beranjak dari tempatnya, ia masih sibuk memperhatikan wajah ayu milik Hiu hwi dengan seksama.
            Pemuda itu pun beranjak melangkahkan kaki keluar bersama anjing kesayangannya, sebelum pemuda itu benar-benar hilang dari balik pintu, ia mengatakan sesuatu pada Hiu hwi. "Lee Hiu Hwi, perkenalkan namaku Kim Jaejoong.."



*****

            "Semalam, tidurmu sangat nyenyak, ya, Nona Lee.." ujar Jaejoong seraya memakan sarapannya dengan santai. Hiu hwi tersenyum kecil, kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan sikat gigi.
            "Kyaa! Menyingkirlah! YA! Anjing bodoh! Yak!" Hiu hwi berteriak histeris ketika melihat anjing milik Jaejoong yang sedang menatap garang pada Hiu hwi. Jaejoong tertawa kecil. Mungkin, suara teriakan Hiu hwi akan terdengar setiap paginya.
            Jaejoong beranjak menjauhkan anjing peliharaannya itu dari Hiu hwi dan mengusap-usap bulu hitamnya dengan sayang. "Joon, kau jangan mengganggu Tuan Putri. Mengerti?" kata Jaejoong pada Joon; nama anjing peliharaannya.
            Hiu hwi mendengus kesal dan berlari menuju kamar mandi. Jaejoong terkekeh geli melihat tingkah Hiu hwi yang kekanakan. "Hiu hwi-ssi, namanya Joon, kau jangan takut. Joon sangatlah lucu. Hahaha."
            "Lucu, apanya?" balas Hiu hwi sengit. "Anjingmu menakutkan, Tuan Kim!"
            "Gukk .. Guukk .."
            "Hahaha. Sudahlah, Joon.." Jaejoong mengajak Joon menuju ruang tengah di sisa tawanya.


            "Eh? Cepat sekali..," gumam Jaejoong saat Hiu hwi sudah kembali dari kamar mandi. Jaejoong pun beranjak mendekati Hiu hwi yang sudah duduk manis di meja makan.
            Hiu hwi meminum air mineral dengan sekali teguk, "Setelah ini, bagaimana? Apa kita akan ke Gangnam?"
            "Bagaimana jika kita berkeliling Seoul, dahulu?"
            "Aku tidak mempunyai waktu untuk itu, Tuan. Aku hanya mempunyai waktu enam bulan!" Hiu hwi menatap Jaejoong dengan sendu, "Belum lagi, jika Daddy sudah menemukanku di Korea."
            "Habiskan sarapanmu, dulu." kata Jaejoong.
            Hiu hwi tersenyum dengan mata berbinar, kemudian ia menyahut selembar roti gandum dan berlari menuju kamarnya, mengambil mantelnya. "Ayo kita berangkat.."
            "Joon, ikut?" tanya Jaejoong pada Joon yang menonton televisi.
            "YA! Berani-beraninya, kau!" pekik Hiu hwi histeris, Jaejoong tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Hiu hwi yang berlebihan. Joon beranjak menuruni sofa dan mendekati Hiu hwi. Namun Hiu hwi berusaha menghindari Joon dengan jeritan minta tolongnya.
            "Kalau kau berani mendekat, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu, anjing bodoh!" Hiu hwi pun keluar dan melarikan diri.
            Jaejoong tersenyum dan berjongkok sambil menatap anjing kesayangannya. "Joon, jangan kemana-mana. Dan, jangan sampai lelaki itu menghancurkan rencanaku lagi. Ara?"
            Seusai itu, Jaejoong beranjak menyusul Hiu hwi yang sudah menunggunya didepan lift. Gadis itu tampak mengerucutkan bibirnya dan menyenderkan tubuh rampingnya pada dinding. Samar, Jaejoong tersenyum. Tingkah kekanakan Hiu hwi mampu membuatnya nyaman.
            Jaejoong menghentikan langkah manakala seorang pemuda tampan itu berdiri disamping Hiu hwi dengan wajah dingin, seperti biasanya. Pemuda itu sahabatnya, namun telah menjadi musuh. Cho Kyuhyun, tersenyum remeh pada Jaejoong yang hanya membeku ditempat.
            "Tuan, cepatlah!" seru Hiu hwi melambaikan tangan dan itu membuat kesadaran Jaejoong kembali lagi.
            Kemana dia? Pikir Jaejoong, karena Kyuhyun tidak ada disamping Hiu hwi. Hiu hwi memasuki lift dan di ikuti Jaejoong.
            "Eh, Tuan, aku belum mengenalmu.." ujar Hiu hwi menoleh kearah Jaejoong yang menatap lurus kedepan. Rahang tegas yang dimiliki Jaejoong membuat gadis itu berdecak kagum dalam hati.
            "Kim Jaejoong."
            "Ohk? Lalu, aku harus memanggil apa? Jaejoong-ssi? Jaejoong abeoji? Jaejoong ahjussi? Jaejoong harabeoji? Atau, Joongie oppa?"
            "Joongie oppa? Terlihat informal."
            "Eoh? Memangnya tidak boleh? Apa ada yang marah?" Hiu hwi menatap Jaejoong penuh selidik.
            "Ya, ada. Dia, Joon."
            "Mwo?" Jaejoong terkekeh pelan dan melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Hiu hwi mengekorinya dengan bibir mengerucut.



***

            Sepi! Tak ada suara di ruangan bercat coklat ini. Hanya suara alat pendeteksi jantunglah yang menemani kesunyian. Seorang gadis cantik sedang terbujur kaku di ranjang dengan beberapa selang yang ada disekitar tubuh. Choi Sooyoung, ia tengah beradu nasib dengan pintu kematian.
            "Sooyoung, sayang. Bagaimana keadaanmu, um?" Wanita paruh baya itu muncul dari balik pintu kamar dengan washlap dan wadah kecil ditangannya. Ya, wanita paruh baya itu Nyonya Choi.
            "Aku keadaanku tidak baik-baik saja, Bu."
            Nyonya Choi tersenyum. Nyonya Choi tersenyum pada wajah ayu anaknya yang masih tertidur panjang, bukan pada suara tadi. Sooyoung tersenyum miris, eomma-nya bahkan tidak mengetahui keberadaan arwahnya. Ya, hanya orang tertentulah yang dapat melihatnya.

TES!

            Sebulir air bening keluar dari mata Sooyoung dan Nyonya Choi terkesima dengan reaksi tubuh anak tunggalnya. Sooyoung berjalan mendekati Nyonya Choi dan duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak menyentuh pipi Nyonya Choi yang basah, dan hasilnya seperti menyentuh air, Sooyoung tidak bisa.
            "Eomma.. Uljimayo.."
            Pintu kamar Sooyoung terbuka, muncul seorang pria tampan dengan setangkai bunga mawar putih di genggamannya. Pria itu menoleh kearah Sooyoung dan tersenyum manis. Pria itu adalah sang kekasih hati, Cho Kyuhyun.
            "Kyuhyun-ah.. kau datang lagi," Nyonya Choi beranjak mendekati Kyuhyun sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
            "Nde, eommonim."
            Nyonya Choi tersenyum menanggapinya.
            "Eommonim, apa abeonim sudah berangkat bekerja?"
            "Sudah. Hummm... Kyuhyun-ah, eommonim ingin mengatakan sesuatu padamu."
            "Nde?"
            "Hummm... aku sudah merencanakannya dengan Siwon." kata Nyonya Choi. "Jika kau telah merasa lelah untuk menunggu Sooyoung, kau bisa ... meninggalkannya."
            Kyuhyun terdiam.
            Sooyoung yang tengah berdiri disampingnya itu menggeleng pelan sambil berusaha menyentuh punggung tangan kekasihnya. "Andwaeyo... jangan tinggalkan aku, Kyuhyun-ah. Aku takut."
            Kyuhyun mendengar ucapan Sooyoung dan mendongak untuk menatap Nyonya Choi sambil tersenyum penuh arti.
            "Pernikahan kalian akan kami batalkan, tetapi kami menunggu jawabanmu dahulu," kata Nyonya Choi sembari menatap Kyuhyun dan raga Sooyoung bergantian.
            "Bagaimana?" tanya Nyonya Choi.
            "Ehm, aku ..." Kyuhyun menggantungkan kalimatnya sembari menatap lekat foto dirinya dan Sooyoung yang terbingkai di dinding kamar itu.
            "Lebih baik kau pikirkan dulu, aku akan memberimu waktu sampai besok." sela Nyonya Choi dan beranjak pergi meninggalkannya.
            Sooyoung menghela napasnya lega.
            Kyuhyun pun begitu. Tetapi, dalam hatinya, Kyuhyun terus terngiang pertanyaan yang diajukan calon mertuanya tersebut. Kedua orangtuanya juga tidak ingin Kyuhyun terlalu berharap tentang kesembuhan Sooyoung, tetapi Kyuhyun sendiri masih ingin mempertahankan rasa cintanya.
            "Kyuhyun-ah, apa kau ingin meninggalkanku?"
            Kyuhyun tersentak atas perkataan Sooyoung. "Mmm-mwo?"
            "Katakan,"
            "Katakan? Apa maksudmu, heng?"
            "Katakan. Kalau sebenarnya kau memang ingin meninggalkanku!" Hentak arwah Sooyoung geram. Sooyoung menatap pria yang telah lima tahun mengisi hari-harinya dengan senyuman miring mematikan itu. Kyuhyun tak bergeming.

TES!

            Air mata keluar dari pelupuk mata raga Sooyoung yang tertidur itu. Kyuhyun terkejut, kemudian ia menatap arwah Sooyoung yang ada disampingnya. Sooyoung tersenyum miris melihat sang raga lebih sensitif dari pada arwahnya.
            "Jika kau ingin pergi. Pergilah. Cari pendamping hidup yang lebih layak untuk seorang Cho Kyuhyun."




*****


            "Annyeonghasseo...,"
            "Ohk, nuguya?" Seorang wanita tua berpakaian santai dengan membawa paper bag sembari mendekati Hiu hwi dan Jaejoong yang masih melongo didepan pintu pagar rumah bercat abu-abu tersebut.
            "Eoh, mianhada, ahjumma. Apa benar rumah ini milik Nyonya Kim?"
            Wanita tua tersebut menatapi wajah Jaejoong dan Hiu hwi secara bergantian, sebelum akhirnya ia mengangguk ragu. "Siapa kalian?"
            "Lee Hiu hwi imnida. Dan, ini teman saya, Kim Jaejoong." jawab Hiu hwi sedikit membungkuk, berusaha sopan pada orang yang tidak ia kenali.
            "Kau ... anaknya Hyo-hwa, eoh?"
            "Nde?"
            "Nde! Hyo-hwa pernah bilang, kalau dia mempunyai anak gadis dengan pria Amerika. Hyo-hwa berkata, anak gadisnya bernama 'Lee Hiu hwi'. Iya, kan? Kau anak Hyo-hwa, kan?" Wanita tua itu terus mengucapkan pernyataan yang ia ketahui.
            Hiu hwi tersenyum lega, "Syukurlah.."
            "Eumm, ahjumma, lalu, kemana Hyo-hwa ahjumma berada? Apa Hyo-hwa ahjumma ada didalam rumahnya?" sahut Jaejoong.
            "Mwo?" Air muka wanita tua itu berubah menjadi sedih. "Hyo-hwa pergi. Entahlah.. dia mengatakan, dia pergi bekerja. Dan dia mengatakannya sebulan yang lalu."
            "Mwo? Sebulan yang lalu?"
            "Nde! Dan aku tidak tahu, sekarang, ia ada dimana."
            Hiu hwi tersenyum kecut dan membungkuk pada wanita tua itu, "Gomapta, ahjumma. Kami permisi. Annyeong.."



            Hiu hwi meneguk air mineralnya sampai habis. Jaejoong tidak berniat meminum airnya, pria itu malah sibuk memandangi wajah Hiu hwi dengan lekat. Seakan ia tengah mencoba membaca pikiran Hiu hwi tersebut. Merasa diperhatikan oleh seseoang yang ada disampingnya, gadis itu menoleh dan menatap Jaejoong dengan kening berkerut.
            "Wae?"
            "Hidupmu layak, ya?" tanya Jaejoong.
            "Maksudmu?"
            "Nde. Hidupmu berkecukupan." Jaejoong mengalihkan pandangannya pada air mineralnya sambil tertawa miris. "Aku jadi iri."
            Hiu hwi terpengarah, kemudian tersenyum penuh arti. "Hidup berkecukupan tidak selalu menjamin kehidupan masa depan. Harta itu hanyalah seentara, tidak selamanya."
            "Yang kutahu, gadis kaya sepertimu itu manja."
            "Tidak selalu begitu. Teman-temanku di New York dan California saja, tidak ada yang manja. Rata-rata, sih, mereka bad girl." Hiu hwi tertawa pelan manakala ia teringat Jessica Jung, teman sekolahnya yang juga mempunyai keturunan Korea itu, tidak ingin dikatakan manja.
            "Eh waeyo? Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Jaejoong tersenyum geli menanggapi Hiu hwi yang tersenyum-senyum sendiri.
            Hiu hwi yang masih tersenyum tidak jelas itu menoleh kearah Jaejoong dan tertawa pelan, "Aniya. Hahaha..."
            "Jangan-jangan..., kau mulai gila, ne?"
            "Yak! Aku tidak gila, bodoh!" umpat Hiu hwi sembari mencubit Jaejoong. Keduanya pun tertawa lepas, seakan lupa dengan tujuan pertama mereka.




*****

            Pagi yang mendung ini membuat Hiu hwi enggan beranjak dari ranjang itu dan sibuk mengurusi mimpi indahnya. Suara gemericik air hujan terdengar samar-samar pada sebuah ruangan bercat merah itu. Hiu hwi tampak meringkuk malas ditemani selimut tebal sambil mendengkur halus. Jaejoong? Jangan bertanya, pria itu tengah tidak ada di apartemennya. Pria itu baru saja pergi menuju kampusnya untuk mengikuti ujian dan sebelumnya Hiu hwi sudah ia pamiti.
            Lee Hiu hwi...
            Hwi-ya...
            "Hummm..." Hiu hwi bergumam pelan tanpa membuka matanya.
            Hwi-ya... tolong aku...
            Hiu hwi tak bergeming. Gadis cantik itu masih diambang batas kesadarannya. Antara sadar dan tidak, ia mendengar suara minta tolong itu. Terdengar menakutkan. Menakutkan?
            Sentak gadis itu terbangun dengan posisi terduduk sambil mendelik terkejut. "YA! Nuguya?" teriak Hiu hwi.
            Lee Hiu hwi.. tolong aku, kumohon. Tolong aku. Aku..
          
  "YA! Kau siapa?" sela Hiu hwi ketakutan.
            Ash! Dengarkan aku dulu! Jangan asal menyela perkataan orang! Ara?
          
  "Chamkanman! Kau itu.. kau itu apa?"
            Aku? Aku itu ciptaan Tuhan.. wae?
           
"Aish! Bukan, bukan itu maksudku, bodoh! Maksudku, kau itu setan gentayangan, bukan?"
            Bisa jadi!
          
  "Atau, arwah yang gentayangan?"
            Ya, iya, bisa jadi.
           
"Ah! Aku tahu, kau pasti arwah yang tengah gentayangan karena korban kecelakaan?"
            Tidak! Tidak!
       
    "Hummm... apa kau itu arwah gentayangan karena tubuhmu hilang?"
            Yak! Tidak!
            "Lalu, apa? Kau jangan membuat kepalaku berdenyut, setan bodoh!"
            Yak! Kau ini! Aku bukan setan bodoh, aku ini setan cantik. Kau, sih, tidak tahu wujudku.
   
        "Cah! Kalau begitu, tunjukkan wujudmu, padaku!"
            Nde? Mana bisa? Kau itu tidak mempunyai kelebihan itu. Mana mungkin kau bisa melihatku, bodoh!
          
  Hiu hwi mendengus sebal sembari mengacak rambutnya frustasi. "Maksudmu, apa?"
            Kau tidak mempunyai kelebihan supranatural atau indigo, tidak seperti kekasihku dan pemilik apartemen ini.
          
  "Nde? Indigo? Supranatural? What is that?" Hiu hwi tampak bingung karena kata-kata asing yang disebutkan arwah gentayangan itu.
            Mwo? Kau tidak tahu maksudku? Dasar, bodoh!
           
"YA! Aku tidak bodoh sepertimu, setan bodoh!" maki Hiu hwi layaknya orang gila.
            Lalu, kalau kau tidak bodoh, mana mungkin kau tidak tahu supranatural dan indigo? Ikan bodoh! Ikan bodoh! Ikan bdoh!
           
"YA! Tutup mlutmu, setan bodoh!"
            Ikan bodoh ... ikan bodoh ... ikan bodoh ... ikan bodoh ... hahaha.
          
  "YAK! DIAM! Sekarang, katakan, siapa namamu?"
            Aku? Aku ...
       
    "Setan bodoh? Ya, kau dimana?" Tidak ada balasan, Hiu hwi memanggilnya sambil melihat keadaan sekitar. Sepi. Tidak ada siapa-siapa memang, tetapi suara yang menemaninya tadi menghilang.
            Pstt! Sepertinya aku haru pergi. Pria iu datang...
         
   "Mwo? Maksudmu?"
            Kim Jaejoong..
       
    "Lee Hiu hwi, kau sedang apa?" Sentak Hiu hwi berjengit kaget karena suara Jaejoong.
            "A-aku..."







=TBC=

Part selanjutnya agak lama lagi. wakakaka!

Selasa, 06 Agustus 2013

FF "EAGLE EYES!" Part 1.

Author                  : Setan baik.
Cast                      : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Choi Sooyoung.
Genre                   : Angst.
Rating                   : 15+

This original story by @Intaan905 ^^



*****

            "Kenapa daddy tidak pernah mengatakannya pada Sharron? Kata paman, mommy masih hidup. Kenapa? Kenapa daddy membohongi Sharron? Apa daddy sudah tidak menyayangiku lagi? Kenapa, dad?" Gadis cantik itu menitikan air matanya lagi sembari menatap tajam pada pria paruh baya yang memunggunginya. Air mata itu tak henti-hentinya mengalir di pipinya.

BRAK!

            Sharron sentak membuang seluruh berkas-berkas yang ada di meja kantor ayahnya dengan kesal. Raut wajahnya menyiratkan tanda kekesalan, kepedihan, dan kekecewaan. Pria paruh baya itu berjengit pelan ketika mendengar suara pecahan kaca dari belakangnya. Mungkin itu cangkir kopinya.
            "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya daddy pikirkan, tetapi aku benar-benar kecewa. Aku sudah terpisahkan dari mommy mulai aku kecil, mulai aku berumur 5 tahun. Hiks.. Daddy, dulu aku merasa iri terhadap teman- temanku. Mereka selalu diantar oleh ibu mereka. Tetapi, aku? Aku hanya diantar oleh paman Han. Daddy, aku... hiks.. Aku juga ingin seperti mereka. Sharron tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu."
            Tuan Lee membalikan tubuhnya menghadap Sharron yang tengah terisak. Tuan Lee menghentikan langkah, lalu membuka laci dan menyerahkan sebuah tiket penerbangan New York-London pada Sharron. "Cepat! Lanjutkan pendidikanmu. Daddy sudah menyiapkan semuanya." ujarnya dingin.
            "Oh, daddy..." gumam Sharron tak percaya dengan perkataan Tuan Lee yang terdengar seperti perintah. Sharron mengambil tiket penerbangan itu dengan lemas, kemudian sesegera mungkin ia keluar dari ruangan kerja milik Tuan Lee.
            Sharron menghentikan langkah di lobby kantor Lee corp, kemudian ia memanggil salah satu karyawan. "Kemana paman Han?"
            "Mr. Han sedang meeting bersama klien dari Jepang, Nona." Pria itu menunjuk sebuah ruangan pada Sharron.
            "Katakan padanya, ku tunggu di restoran Milley nanti siang." Sharron sentak melangkah kembali meninggalkan karyawan itu dengan langkah angkuhnya.
            "For you." Sharron memberikan tiket pesawat itu pada seorang karyawan muda berkacamata bulat dengan rambut di ikat kuda. Karyawan itu menganga lebar, kemudian menerima tiket pesawat itu dengan tangan bergetar. Sharron kembali melanjutkan langkah menuju parkiran mobil, dan ia segera melesat pergi ke restoran Italian itu.



*****

            Sharron meminum Milkshake pesanannya dengan santai. Jam telah menunjukkan pukul 12 siang, namun sang paman belum juga menampakan batang hidungnya. Sharron dilanda kebosanan. Dan untuk kesekian kalinya, ia melirik jam tangan putihnya.
            "Maaf, aku terlambat."
            Sharron berdeham pelan, "Langsung saja. Apa paman bisa membantuku?"
            "Eumm, membantumu? Apa?"
            "Aku akan mencari tahu keberadaan mommy di Korea."
            "Korea?" ulang Eun-jo tak percaya.
            "Sharron, negara Korea itu luas. Mana mungkin kau kesana sendiri? Tidak, aku tidak mau."
            "Paman! Aku melakukannya, semata-mata hanya ingin mendengar penjelasan dari mommy! Apa paman tidak kasihan padaku? Selama 20 tahun, aku jauh dari jangkauan mommy. Ah, paman tenang saja, aku bisa menjaga diri." kata Sharron, matanya memerah. Setiap ia mengingat Ibunya, air mata Sharron selalu ingin jatuh. Sharron telah berjanji, di usia 26 tahun nanti, ia sudah harus menemukan sang ibu. Sekarang, umurnya masih 25 tahun. Dan enam bulan lagi, umurnya genap 26 tahun.
            "Aku tidak akan bisa menolakmu." Eun-jo mengalihkan tatapannya dari sorot mata Sharron yang sendu. "Apa yang bisa kubantu?"
            "Paman tahu tempat mommy tinggal? Dan. Hehehe.. Aku juga butuh tempat tinggal." jawab Sharron tersenyum manis pada Eun-jo.
            Eun-jo menghela napas berat. "Hmm.. Aku mempunyai keponakan yang tinggal di daerah Gwangju. Dan juga, seingatku, ibu mu tinggal di Gangnam. Kau bisa meminta tolong padanya,"
            Sharron mengangguk mengerti akan penjelasan pamannya. Eun-jo menuliskan alamat rumah keponakannya beserta alamat rumah Ibu Sharron.
            "Berhati-hatilah..."
            "Maksud, paman?"
            "Tidak. Semoga, kau bisa mencari Kim Hyo-hwa dengan selamat.."



*****

At Incheon International Airport, South Korea. On 03:45 p.m.


            Awan kelam menyelimuti kota penuh dengan aktifitas penduduk yang tidak ada henti. Seorang gadis cantik merapatkan blazer coklat gelapnya, kemudian menarik sebuah koper hitam menuju tempat pemberhentian taksi. Gadis itu membenarkan kacamata hitamnya seraya mengeluarkan benda persegi berwarna putih itu dari saku-nya. Jemari tangannya nampak mengeluarkan sebuah kartu kecil, lebih tepatnya adalah kartu perdana, kemudian ia mematahkan kartu perdananya menjadi beberapa keping. Sharron menghentikan langkah ketika ia mendapati seorang gadis kecil dengan wajah khas barat itu sedang terduduk di bangku dengan beberapa koper di sampingnya. Sharron membuang kepingan kartu perdana itu, lalu menghampiri gadis kecil itu dengan mengeluarkan sebungkus coklat dari saku blazer.
            "Hello? Apa yang kau tunggu, cantik?" sapa Sharron tersenyum ramah, dengan bahasa inggris yang fasih dan lancar. "Kemana orangtuamu?" lanjutnya.
            "Ibu sedang mengantarkan Kakak menuju toilet. Sedangkan, Ayah? Ayahku tidak ikut kemari." jawab gadis kecil itu merenggut.
            Sharron memberikan coklat pada gadis kecil itu sambil tersenyum, "Coklat untukmu? Siapa namamu?"
            "Ah, terima kasih! Namaku Michelle Clark." Michelle membuka coklat itu, dan memakannya. Sharron tersenyum, lalu tangannya berusaha memasukan ponsel putihnya pada tas ransel Michelle yang sedikit terbuka.
            "Aku pergi dulu. Salam untuk keluargamu, ok? Sampai jumpa, cantik.."
            Sharron bangkit dari duduknya dan melambaikan tangan pada gadis kecil yang polos itu sambil berjalan menjauh. Senyuman manis terlihat di wajah ayu Sharron ketika keluarga Michelle datang dan membawa gadis kecil itu pergi menuju penerbangan inter-lokal. Sharron memakai topi coklat muda yang ia bawa, kemudian tangannya terjulur untuk memberhentikan sebuah taksi. Gadis itu sangatlah pintar jika menyangkut hal-hal yang menantang.
            "Kemana tujuan Anda?" tanya sang sopir taksi. Beruntung, Sharron telah mempelajari bahasa Korea pada Eun-jo, dan hal itu memang tidak tersia-siakan.
            "Gwangju, Chamri apartemen. Ah, paman, apakah jarak Incheon ke Gangnam, cukup jauh?"
            "Yeah, cukup memakan waktu yang sedikit lama, karena Gangnam itu daerah Seoul. Apakah Anda bukan penduduk Korea?" Sopir taksi itu melirik Sharron melalui kaca, dan Sharron hanya tersenyum masam. Sopir taksi ini sangat tidak sopan, bagaimana pun, ia sudah mencoba ikut campur. Pikir Sharron.
            "Oh, maaf atas kelancanganku."
            Taksi itu melaju dengan kecepatan sedang untuk membelah kota di sore hari. Sharron memandangi jalanan kota dengan tatapan kosong. Jantungnya berdegub kencang ketika mengingat ia akan segera bertemu dengan Ibunya. Sekitar satu jam menempuh perjalanan, akhirnya taksi itu berhenti pada sebuah apartemen mewah. Sharron beranjak membayar ongkos taksi, lalu keluar dan memasuki apartemen tersebut. Sharron melepas kacamata hitam yang sedari tadi menutupi mata indahnya.
            "Maaf, aku Lee Hiu Hwi.. Aku---"
            "Oh, Nona Lee, Anda telah di tunggu oleh Tuan Muda. Tuan sedang ada di kamar apartemen-nya. Kamar 105, lantai 3." Sharron tersenyum kaku dan mengucapkan terima kasih, kemudian ia beranjak menaiki lift menuju lantai 3.
            Ketika ia tengah menunggu lift, seorang lelaki nampak berdiri sejajar dengannya, spontan Sharron bergeser sedikit. Ting! Lift terbuka. Sharron beranjak memasuki lift dengan menarik kopernya. Sharron tidak sadar, ada seseorang yang tengah memperhatikannya dengan tajam. Seseorang itu berdiri tepat di belakang tubuh Sharron. Kemudian, lift terbuka. Sharron menyeret kopernya menuju kamar nomor 105.
            "Hummm.. Apakah ini?" gumam Sharron.
            Pintu kamar apartemen itu sedikit terbuka, dan hal itu membuat Sharron ingin mengintip dalamnya. Sharron membungkuk dan mencoba mengintip keadaan didalam, namun pintu itu malah terbuka dengan lebar dan membuat Sharron terbelalak lalu kembali menegakan tubuhnya.
            "Eung?"
            "Lee Hiu Hwi, bukan?" Sharron meneguk saliva-nya sendiri dengan kesusahan tatkala pemuda tampan itu muncul dengan keadaan half naked. Hal itu membuat wajah Sharron memerah. "Hello..?"
            "Ohk?" Sharron menerjapkan mata dan mengangguk kaku. Pemuda tampan itu menatap tajam Sharron, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Cantik dan polos, namun sedikit ceroboh. Pikir pemuda tersebut.
            Pemuda itu mempersilakan Sharron memasuki apartemen mewahnya, "Aku adalah keponakan dari Han Eun Jo, Paman Han. Ini apartemen-ku. Semoga kau betah berada di apartemen-ku ini dan aku akan membantumu untuk mencari Ibu-mu."
            "Terima kasih." kata Sharron tersenyum manis, pemuda itu berdeham dan beranjak membuka salah satu pintu kamar.
            "Ini adalah kamar kakak perempuanku yang sedang kuliah di Eropa. Kau bisa menempatinya dan.."
            "Apa? Dan, apa?" Sharron memperhatikan pemuda disampingnya itu dengan heran. Namun pemuda itu malah tersenyum, berusaha menutupi sebuah kenyataan.
            "Tidak apa-apa. Kau bisa langsung beristirahat, Hiu hwi-ssi." ujar pemuda itu sembari tersenyum dan meninggalkan Sharron sendiri di ambang pintu kamar. Sharron mengendikan bahu dan memasuki kamar yang penuh dengan warna merah muda. Kamarnya tidak berdebu, malah terlihat sangat rapi dan bersih. Sharron meletakkan kopernya di pinggir ranjang. Aroma mawar segar menyeruak ketika Sharron merebahkan tubuhnya pada ranjang berukuran besar tersebut.
            "Ah, aku jadi lupa? Siapa nama pemuda itu?" Sharron memukul keningnya pelan, kemudian beranjak bangun dan melepas topi dan blazernya, menyisakan kaos putih  polos. Alih-alih, Sharron melangkah mendekati sebuah cermin dan menatap bayangan dirinya.
            "Astaga!" jerit Sharron tertahan, ketika ada bayangan seorang pria diujung kamar. Namun setelah Sharron berbalik, bayangan itu sudah tidak ada. Sharron menyentuh dada kirinya, dapat ia rasakan jika degub jantungnya terpacu begitu cepat! Ada apa? Siapa pria misterius itu? Beberapa pertanyaan menyerbu pemikiran Sharron. Kemudian, Sharron berbalik lagi dan ia menemukan setetes darah menempel pada permukaan kaca cermin di hadapannya.
            "S-siapa?"





-Chapter 1: END-