Selasa, 06 Agustus 2013

FF "EAGLE EYES!" Part 1.

Author                  : Setan baik.
Cast                      : Lee Hiu Hwi, Cho Kyuhyun, Kim Jaejoong, Choi Sooyoung.
Genre                   : Angst.
Rating                   : 15+

This original story by @Intaan905 ^^



*****

            "Kenapa daddy tidak pernah mengatakannya pada Sharron? Kata paman, mommy masih hidup. Kenapa? Kenapa daddy membohongi Sharron? Apa daddy sudah tidak menyayangiku lagi? Kenapa, dad?" Gadis cantik itu menitikan air matanya lagi sembari menatap tajam pada pria paruh baya yang memunggunginya. Air mata itu tak henti-hentinya mengalir di pipinya.

BRAK!

            Sharron sentak membuang seluruh berkas-berkas yang ada di meja kantor ayahnya dengan kesal. Raut wajahnya menyiratkan tanda kekesalan, kepedihan, dan kekecewaan. Pria paruh baya itu berjengit pelan ketika mendengar suara pecahan kaca dari belakangnya. Mungkin itu cangkir kopinya.
            "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya daddy pikirkan, tetapi aku benar-benar kecewa. Aku sudah terpisahkan dari mommy mulai aku kecil, mulai aku berumur 5 tahun. Hiks.. Daddy, dulu aku merasa iri terhadap teman- temanku. Mereka selalu diantar oleh ibu mereka. Tetapi, aku? Aku hanya diantar oleh paman Han. Daddy, aku... hiks.. Aku juga ingin seperti mereka. Sharron tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu."
            Tuan Lee membalikan tubuhnya menghadap Sharron yang tengah terisak. Tuan Lee menghentikan langkah, lalu membuka laci dan menyerahkan sebuah tiket penerbangan New York-London pada Sharron. "Cepat! Lanjutkan pendidikanmu. Daddy sudah menyiapkan semuanya." ujarnya dingin.
            "Oh, daddy..." gumam Sharron tak percaya dengan perkataan Tuan Lee yang terdengar seperti perintah. Sharron mengambil tiket penerbangan itu dengan lemas, kemudian sesegera mungkin ia keluar dari ruangan kerja milik Tuan Lee.
            Sharron menghentikan langkah di lobby kantor Lee corp, kemudian ia memanggil salah satu karyawan. "Kemana paman Han?"
            "Mr. Han sedang meeting bersama klien dari Jepang, Nona." Pria itu menunjuk sebuah ruangan pada Sharron.
            "Katakan padanya, ku tunggu di restoran Milley nanti siang." Sharron sentak melangkah kembali meninggalkan karyawan itu dengan langkah angkuhnya.
            "For you." Sharron memberikan tiket pesawat itu pada seorang karyawan muda berkacamata bulat dengan rambut di ikat kuda. Karyawan itu menganga lebar, kemudian menerima tiket pesawat itu dengan tangan bergetar. Sharron kembali melanjutkan langkah menuju parkiran mobil, dan ia segera melesat pergi ke restoran Italian itu.



*****

            Sharron meminum Milkshake pesanannya dengan santai. Jam telah menunjukkan pukul 12 siang, namun sang paman belum juga menampakan batang hidungnya. Sharron dilanda kebosanan. Dan untuk kesekian kalinya, ia melirik jam tangan putihnya.
            "Maaf, aku terlambat."
            Sharron berdeham pelan, "Langsung saja. Apa paman bisa membantuku?"
            "Eumm, membantumu? Apa?"
            "Aku akan mencari tahu keberadaan mommy di Korea."
            "Korea?" ulang Eun-jo tak percaya.
            "Sharron, negara Korea itu luas. Mana mungkin kau kesana sendiri? Tidak, aku tidak mau."
            "Paman! Aku melakukannya, semata-mata hanya ingin mendengar penjelasan dari mommy! Apa paman tidak kasihan padaku? Selama 20 tahun, aku jauh dari jangkauan mommy. Ah, paman tenang saja, aku bisa menjaga diri." kata Sharron, matanya memerah. Setiap ia mengingat Ibunya, air mata Sharron selalu ingin jatuh. Sharron telah berjanji, di usia 26 tahun nanti, ia sudah harus menemukan sang ibu. Sekarang, umurnya masih 25 tahun. Dan enam bulan lagi, umurnya genap 26 tahun.
            "Aku tidak akan bisa menolakmu." Eun-jo mengalihkan tatapannya dari sorot mata Sharron yang sendu. "Apa yang bisa kubantu?"
            "Paman tahu tempat mommy tinggal? Dan. Hehehe.. Aku juga butuh tempat tinggal." jawab Sharron tersenyum manis pada Eun-jo.
            Eun-jo menghela napas berat. "Hmm.. Aku mempunyai keponakan yang tinggal di daerah Gwangju. Dan juga, seingatku, ibu mu tinggal di Gangnam. Kau bisa meminta tolong padanya,"
            Sharron mengangguk mengerti akan penjelasan pamannya. Eun-jo menuliskan alamat rumah keponakannya beserta alamat rumah Ibu Sharron.
            "Berhati-hatilah..."
            "Maksud, paman?"
            "Tidak. Semoga, kau bisa mencari Kim Hyo-hwa dengan selamat.."



*****

At Incheon International Airport, South Korea. On 03:45 p.m.


            Awan kelam menyelimuti kota penuh dengan aktifitas penduduk yang tidak ada henti. Seorang gadis cantik merapatkan blazer coklat gelapnya, kemudian menarik sebuah koper hitam menuju tempat pemberhentian taksi. Gadis itu membenarkan kacamata hitamnya seraya mengeluarkan benda persegi berwarna putih itu dari saku-nya. Jemari tangannya nampak mengeluarkan sebuah kartu kecil, lebih tepatnya adalah kartu perdana, kemudian ia mematahkan kartu perdananya menjadi beberapa keping. Sharron menghentikan langkah ketika ia mendapati seorang gadis kecil dengan wajah khas barat itu sedang terduduk di bangku dengan beberapa koper di sampingnya. Sharron membuang kepingan kartu perdana itu, lalu menghampiri gadis kecil itu dengan mengeluarkan sebungkus coklat dari saku blazer.
            "Hello? Apa yang kau tunggu, cantik?" sapa Sharron tersenyum ramah, dengan bahasa inggris yang fasih dan lancar. "Kemana orangtuamu?" lanjutnya.
            "Ibu sedang mengantarkan Kakak menuju toilet. Sedangkan, Ayah? Ayahku tidak ikut kemari." jawab gadis kecil itu merenggut.
            Sharron memberikan coklat pada gadis kecil itu sambil tersenyum, "Coklat untukmu? Siapa namamu?"
            "Ah, terima kasih! Namaku Michelle Clark." Michelle membuka coklat itu, dan memakannya. Sharron tersenyum, lalu tangannya berusaha memasukan ponsel putihnya pada tas ransel Michelle yang sedikit terbuka.
            "Aku pergi dulu. Salam untuk keluargamu, ok? Sampai jumpa, cantik.."
            Sharron bangkit dari duduknya dan melambaikan tangan pada gadis kecil yang polos itu sambil berjalan menjauh. Senyuman manis terlihat di wajah ayu Sharron ketika keluarga Michelle datang dan membawa gadis kecil itu pergi menuju penerbangan inter-lokal. Sharron memakai topi coklat muda yang ia bawa, kemudian tangannya terjulur untuk memberhentikan sebuah taksi. Gadis itu sangatlah pintar jika menyangkut hal-hal yang menantang.
            "Kemana tujuan Anda?" tanya sang sopir taksi. Beruntung, Sharron telah mempelajari bahasa Korea pada Eun-jo, dan hal itu memang tidak tersia-siakan.
            "Gwangju, Chamri apartemen. Ah, paman, apakah jarak Incheon ke Gangnam, cukup jauh?"
            "Yeah, cukup memakan waktu yang sedikit lama, karena Gangnam itu daerah Seoul. Apakah Anda bukan penduduk Korea?" Sopir taksi itu melirik Sharron melalui kaca, dan Sharron hanya tersenyum masam. Sopir taksi ini sangat tidak sopan, bagaimana pun, ia sudah mencoba ikut campur. Pikir Sharron.
            "Oh, maaf atas kelancanganku."
            Taksi itu melaju dengan kecepatan sedang untuk membelah kota di sore hari. Sharron memandangi jalanan kota dengan tatapan kosong. Jantungnya berdegub kencang ketika mengingat ia akan segera bertemu dengan Ibunya. Sekitar satu jam menempuh perjalanan, akhirnya taksi itu berhenti pada sebuah apartemen mewah. Sharron beranjak membayar ongkos taksi, lalu keluar dan memasuki apartemen tersebut. Sharron melepas kacamata hitam yang sedari tadi menutupi mata indahnya.
            "Maaf, aku Lee Hiu Hwi.. Aku---"
            "Oh, Nona Lee, Anda telah di tunggu oleh Tuan Muda. Tuan sedang ada di kamar apartemen-nya. Kamar 105, lantai 3." Sharron tersenyum kaku dan mengucapkan terima kasih, kemudian ia beranjak menaiki lift menuju lantai 3.
            Ketika ia tengah menunggu lift, seorang lelaki nampak berdiri sejajar dengannya, spontan Sharron bergeser sedikit. Ting! Lift terbuka. Sharron beranjak memasuki lift dengan menarik kopernya. Sharron tidak sadar, ada seseorang yang tengah memperhatikannya dengan tajam. Seseorang itu berdiri tepat di belakang tubuh Sharron. Kemudian, lift terbuka. Sharron menyeret kopernya menuju kamar nomor 105.
            "Hummm.. Apakah ini?" gumam Sharron.
            Pintu kamar apartemen itu sedikit terbuka, dan hal itu membuat Sharron ingin mengintip dalamnya. Sharron membungkuk dan mencoba mengintip keadaan didalam, namun pintu itu malah terbuka dengan lebar dan membuat Sharron terbelalak lalu kembali menegakan tubuhnya.
            "Eung?"
            "Lee Hiu Hwi, bukan?" Sharron meneguk saliva-nya sendiri dengan kesusahan tatkala pemuda tampan itu muncul dengan keadaan half naked. Hal itu membuat wajah Sharron memerah. "Hello..?"
            "Ohk?" Sharron menerjapkan mata dan mengangguk kaku. Pemuda tampan itu menatap tajam Sharron, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Cantik dan polos, namun sedikit ceroboh. Pikir pemuda tersebut.
            Pemuda itu mempersilakan Sharron memasuki apartemen mewahnya, "Aku adalah keponakan dari Han Eun Jo, Paman Han. Ini apartemen-ku. Semoga kau betah berada di apartemen-ku ini dan aku akan membantumu untuk mencari Ibu-mu."
            "Terima kasih." kata Sharron tersenyum manis, pemuda itu berdeham dan beranjak membuka salah satu pintu kamar.
            "Ini adalah kamar kakak perempuanku yang sedang kuliah di Eropa. Kau bisa menempatinya dan.."
            "Apa? Dan, apa?" Sharron memperhatikan pemuda disampingnya itu dengan heran. Namun pemuda itu malah tersenyum, berusaha menutupi sebuah kenyataan.
            "Tidak apa-apa. Kau bisa langsung beristirahat, Hiu hwi-ssi." ujar pemuda itu sembari tersenyum dan meninggalkan Sharron sendiri di ambang pintu kamar. Sharron mengendikan bahu dan memasuki kamar yang penuh dengan warna merah muda. Kamarnya tidak berdebu, malah terlihat sangat rapi dan bersih. Sharron meletakkan kopernya di pinggir ranjang. Aroma mawar segar menyeruak ketika Sharron merebahkan tubuhnya pada ranjang berukuran besar tersebut.
            "Ah, aku jadi lupa? Siapa nama pemuda itu?" Sharron memukul keningnya pelan, kemudian beranjak bangun dan melepas topi dan blazernya, menyisakan kaos putih  polos. Alih-alih, Sharron melangkah mendekati sebuah cermin dan menatap bayangan dirinya.
            "Astaga!" jerit Sharron tertahan, ketika ada bayangan seorang pria diujung kamar. Namun setelah Sharron berbalik, bayangan itu sudah tidak ada. Sharron menyentuh dada kirinya, dapat ia rasakan jika degub jantungnya terpacu begitu cepat! Ada apa? Siapa pria misterius itu? Beberapa pertanyaan menyerbu pemikiran Sharron. Kemudian, Sharron berbalik lagi dan ia menemukan setetes darah menempel pada permukaan kaca cermin di hadapannya.
            "S-siapa?"





-Chapter 1: END-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar